Tinggalkan komentar

Tuhan tidak Adil? Hidup dalam Persamaan Empiris

(Disclaimer: Bagian awal tulisan ini dikutip sepenuh hati dari buku Jeffrey Lang, ‘Aku Beriman maka Aku Bertanya’, dengan sedikit perubahan.)

Tanya: 

Aku menganggap Tuhan tidak adil, sebab kita tidak diberi kesempatan yang sama untuk masuk surga. Aku mempunyai seorang saudara sepupu muslimah yang orang tuanya meninggal sewaktu ia masih bayi, dan ia kemudian dibesarkan oleh pamannya. Akan tetapi, pamannya suka menggerayangi tubuhnya setelah ia tumbuh jadi gadis kecil, dan kemudian memperkosanya sehingga ia lari dari rumah dalam usia menjelang dua puluh tahun. Sekarang, ia menjadi pelacur dan tidur dengan siapa saja yang mengajaknya. Bagaimana mungkin seorang gadis yang dibesarkan dalam lingkungan bejat semacam itu dan secara seksual dilecehkan semenjak kecil dimintai pertanggungjawaban yang sama dengan orang sepertiku yang besar dalam keluarga baik-baik? Rasanya tidak adil.

Pengantar: (-arie-)

Masalah utama di sini adalah cara berpikir kita yang linear. IP bagus itu di atas 3,5; kalau sekolah tinggi itu berarti pinter, dsb. (Pengantar olehku, yang dendam dengan sekolah. Hehe.) Hmm, lalu apakah Tuhan memiliki kebijakan yang linear? Begini analisis Jeffrey Lang:

Lanjutkan Membaca »

2 Komentar

29 Gifts Keajaiban Memberi

Yak, kelar juga baca cuku ’29 Gifts Keajaiban Memberi: 29 Hari yang Mengubah Hidup untuk Selamanya’. Buku ini ditulis oleh Cami Walker, seorang penderita multiple sclerosis. Cami menceritakan hidupnya yang menderita dan dirinya yang terkungkung dalam penderitaan itu. Lebih luar biasa lagi, Cami menceritakan bagaimana ia keluar dari kungkungan pengasihanan diri sendiri tersebut.

Cami sungguh luar biasa, terutama karena memang ia layak mengasihani diri sendiri. Multiple sclerosis merupakan penyakit yang menyakitkan dan menyedihkan. Kita akan bersimpati karena Cami harus melalui berbagai penderitaan, berbagai malam tidak tidur, berbagai resep obat demi terus bertahan hidup. Namun, simpati dan rasa kasihan tidak akan mengubah apapun. Cami bangkit dari keterpurukannya dan berdamai dengan takdirnya sebagai penderita multiple sclerosis dengan bantuan teman sekaligus guru spiritualnya, Mbali. Bantuan itu berupa tindakan pemberian secara sadar dan tidak putus-putus selama 29 hari.

Lanjutkan Membaca »

2 Komentar

Yuk, Bikin Paper! #1 Overview

Mahasiswa pada umumnya punya kewajiban membuat paper, entah itu berbentuk skripsi maupun paper kuliah. Umumnya juga, mahasiswa enggan dengan tugas ini. :D Paper biasanya hanya akan dikerjakan bila sudah mendekati deadline. Pertanda bahwa kita lebih berharap pada the power of kepepet daripada kuatnya aliran energi positif berupa antusiasme. Skripsi jangan ditanya. Kegiatan satu ini menjadi bottleneck di berbagai universitas di Indonesia sehingga muncullah wacana penghapusan skripsi.

Kenyataan ini agak mengherankan karena anak muda biasanya suka penasaran dan giat mencari tahu. Buktinya? Banyak tuh mahasiswa yang tahu betul bahkan hafal serba-serbi klub-klub Liga Inggris. Sementara itu, para mahasiswi yang gaul biasanya tahu betul berbagai jenis kosmetik, harga, dan keunggulannya. Mahasiswa dan mahasiswi ini rela meluangkan waktu untuk mencari tahu berbagai hal yang menjadi minatnya. Lantas, mengapa kesenangan dan antusiasme yang sama tidak ada ketika membuat paper?

If It’s not Fun, It’s not Worth It

Banyak mahasiswa memilih topik berdasarkan kelayakannya untuk diajukan sebagai topik skripsi atau paper. “Yang penting (topik ini) di-acc dosen!” Artist's conception of the Milky Way galaxy.Cara ini punya 1 kelemahan mendasar yaitu kita sendiri belum tentu senang dengan topik yang kita ajukan. Yang penting lulus kan? Iya, namun cara ini hanya mempercepat kita di awal (i.e. acc topik) tanpa ada jaminan bakal cepat sampai akhir. Jadi, belum tentu bakal cepat lulus juga. :P

Nggak percaya? Coba bayangkan kita diberi tugas membuat paper 5 halaman mengenai klub bola, merek tas, atau tokoh yang kita kagumi. Sekarang coba bayangkan kita diberi tugas membuat paper 5 halaman mengenai galaksi Bima Sakti. Mana yang lebih cepat waktu pengerjaannya? Kecuali kita seorang pecinta astronomi, hampir pasti tugas pertamalah yang lebih cepat waktu penyelesaiannya. Padahal, bahan tulisan tentang galaksi Bima Sakti justru jauh lebih banyak dari sekedar informasi mengenai klub bola misalnya. Lalu, kenapa penyelesaiannya lebih cepat tugas pertama? Karena kita lebih suka topik tugas pertama.

Lanjutkan Membaca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.