Akuntan dan Ilmu Ekonomi

Beberapa tahun kuliah akuntansi, aku ngerasa bahwa akuntansi tuh ilmu yang rada2 reclusive. Reclusive dalam artian kalo belajar akuntansi tuh yah akuntansi aja. Ilmu-ilmu lain dipelajarinya cuman sambil lalu. Sambil lalu dalam artian.. sekali kuliah ekonomi mikro (misalnya) trus ya udah.. nggak ada lanjutannya lagi dalam pembahasan akuntansi. Buku-buku akuntansi misalnya umumnya ngebahas tentang pengakuan transaksi, paling pol itu transaksinya jenisnya beda-beda. Udah gitu aja. Akhirnya, aku (mungkin juga mahasiswa akuntansi umumnya) nggak tau apa hubungannya kuliah pemasaran dengan laporan keuangan.. taunya ya cuman biaya pemasaran itu di-expense pada periode terjadinya. Udah deh. Itu pemasaran tuh, ilmu yang “agak dekat” dengan keseharian kita (gampang ngebayanginnya maksudku). Nah konon lagi ilmu kayak ekonomi mikro tuh yang udah nggak dekat, ndak gampang, dan nggak mudengin (alias memusingkan). Alhasil selama belajar akuntansi tuh ilmu yang aku tau ya cuman akuntansinya aja. Lain2nya nggak dong/ngerti.

Nah kebiasaan ini berjalan baik-baik aja sampai aku nemu artikel bagus kemaren “The Mark-to-Market Myth” dari Blog “The Baseline Scenario”. Blog yang ternyata luar biasa bagus ini nyeritain (dalam artikel itu) kalo akuntan sudah berbuat “hal yang kurang baik” dengan menerbitkan SFAS 157 yang memperbolehkan bank untuk mengestimasi sendiri asetnya (kalo dulu mesti mark-to-market). Nah penjelasan dan argumentasi mengapa penerbitan SFAS 157 merupakan hal kurang baik itu diwarnai oleh kondisi perekonomian nasional Amerika sono. Kaitannya dengan kondisi perbankan, harga saham, raising capital. Waduh tambah puyeng deh aku…

Sekarang jadi nyesel nih dulu nggak belajar ilmu ekonomi dengan serius. Abis dulu gak kebayang sih ternyata akuntansi tuh berdampak besar terhadap perekonomian negara. Kebayangnya cuman perusahaan dan perusahaan.. ternyata… Buat temen2 yang masih di tahun awal kuliah akuntansi di S1 ternyata ilmu ekonomi tuh menarik dan sangat relevan loh untuk dipelajari. Contohnya ya artikel “The Mark-to-Market Myth” itu. Seru juga yah kalo akuntan2 di masa depan ternyata juga ekonom2 yang cemerlang. ^_^

Iklan