Mestinya Nggak Perlu Ngutak-Ngatik Data biar Signifikan

Ngomong-ngomong tentang riset positivis, beberapa temenku ternyata sempat kelimpungan ketika sampai di bagian hasil riset. Kenapa? Gara2 hasilnya gak signifikan. Umm.. perlu beberapa saat untuk berpikir kenapa penting sekali kelimpungan di saat hasil riset kita nggak signifikan. Alasan yang utama sih.. biar keren.

Woke, biar keren. Riset dibikin untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Nah untuk bisa mengembangkan, jelas kita butuh yang baru2. Entah itu pertanyaan baru, kemungkinan2 baru, ataupun perspektif baru dalam perumusan suatu masalah (Einstein). Ini membuat kita sampai pada simpulan pertama: yang baru itu bagus.

Oke.. karena yang baru itu bagus berarti riset yang bagus adalah riset yang baru alias riset yang menemukan suatu hal yang baru. Iya kan? (Awas bilang nggak. πŸ˜› ) Hal ini kemudian mengarahkan kita ke pengujian hipotesis penelitian kita. Eits…tapi tunggu dulu, sebelum ke pengujian hipotesis, penting buat kita untuk tau yang namanya refutasi ilmu. Refutasi ilmu itu terkait ama kenyataan bahwa sesuatu itu tidak bisa dibilang benar tapi bisa dibilang salah. Hah?!

Iya, gini… di dunia ini tidak ada hal yang benar-benar benar alias tidak ada kebenaran mutlak (sebagai catatan, tentunya diskusi ini tidak mencakupi hal terkait Tuhan dan agama). Semua hal dibilang benar hanya karena belum ditemukan kesalahannya atau sesuatu yang membatalkannya. Satu contoh yang gampang (aku bikin contoh yang gampang karena nggak bisa nyari contoh yang susah… hihihi..), misalnya anda mengenal tetangga anda Pak X sebagai orang yang baik. Suatu hari, anda melihat Pak X sedang memarahi anaknya dengan amat sangat.. sambil memukul dengan rotan misalnya. Kebetulan anda merupakan orang yang anti kekerasan pada anak maka saat itu juga anda mengubah pandangan anda bahwa Pak X merupakan orang yang baik menjadi Pak X merupakan orang yang kejam.

Ilmu pengetahuan juga sama saja. Suatu hal yang dianggap benar, bisa dalam sekejap dianggap tidak benar hanya karena ditemukan satu kesalahan di dalamnya. Hal ini tentunya tidak fair. Oleh karena itu, untuk membuktikan suatu teori ternyata tidak lagi benar maka anda harus menemukan bukti yang sangat kuat untuk menyatakan bahwa teori itu (teori awal) tidak dapat didukung (kebenarannya). Nah, bukti yang kuat dalam riset positivis hadir dalam bentuk p value yang signifikan. Buat gampangannya, p value umumnya disebut signifikan bila bernilai di bawah 10% untuk penelitian ilmu sosial.

Woke, jadi itulah cerita panjang lebar kali tinggi mengapa orang tertarik untuk punya hasil penelitian yang signifikan: hal yang baru merupakan kontribusi bagi pengembangan ilmu sementara hasil yang signifikan merupakan tanda adanya hal yang baru. Oh itu to alasannya. Gakpapa kan.. Trus?

Nah, sebagaimana kita ketahui bersama saudara2, riset positivis sangat bergantung pada yang namanya statistik. Statistik ini adalah alat yg bergantung pada logika dan, oleh karenanya, sebagaimana semua alat yang bergantung pada logika, mudah untuk dimainkan. Ini nih yang jadi masalah, orang-orang yang pengen sekali terlihat keren (risetnya tentunya) kemudian memainkan statistik risetnya agar signifikan.

Sekarang bayangkan, konsep awalnya adalah kita pengen mengembangkan ilmu pengetahuan dengan menemukan hal2 baru dan hal2 baru itu dalam riset positivis ditandai oleh hasil yang signifikan. Itulah mengapa sistem pengembangan ilmu kita (penerimaan artikel di jurnal misalnya) dibuat dengan preferensi khusus pada riset yang hasilnya signifikan. Namun kalo sekarang pada perkembangannya banyak orang memainkan statistik supaya hasil risetnya signifikan maka tujuan awal pengembangan ilmu tadi menjadi tidak tercapai.

Signifikan yang diinginkan adalah signifikan yang benar2 diperoleh dengan prosedur yang baik sehingga dapat mengindikasikan adanya temuan baru. Bila signifikan yang terjadi adalah sekadar signifikan karena permainan statistik maka kita akan tampak seperti menemukan sesuatu yang baru padahal kenyataannya tidak. Lalu lama-kelamaan kita akan kehilangan makna sebenarnya dari suatu temuan baru karena kita terlanjur senang dengan makna harfiahnya saja, signifikan. Kemudian lama-kelamaan kita sebagai suatu komunitas akademik akan kehilangan rasa (sense) atas pentingnya temuan baru bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Lama-kelamaan kita bahkan juga akan kehilangan rasa akan pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan dan hanya menerima semua teori yang telah dibuat sebagai teori yang benar.

Pada skala yang lebih besar, hal ini sangat berbahaya terutama dalam ilmu sosial yang pada dasarnya merupakan “permainan” logika dan persepsi yang kemudian diaplikasi dan berdampak luas pada dunia nyata. Ini menyebabkan orang tidak belajar dari kesalahan dan, sayangnya, sering sekali yang harus menanggung kebodohan (untuk tidak belajar dari kesalahan) itu justru orang-orang yang tidak membuat keputusan itu bahkan sering tidak mengerti keputusan tersebut.

Iklan