Tuhan tidak Adil? Hidup dalam Persamaan Empiris

(Disclaimer: Bagian awal tulisan ini dikutip sepenuh hati dari buku Jeffrey Lang, ‘Aku Beriman maka Aku Bertanya’, dengan sedikit perubahan.)

Tanya: 

Aku menganggap Tuhan tidak adil, sebab kita tidak diberi kesempatan yang sama untuk masuk surga. Aku mempunyai seorang saudara sepupu muslimah yang orang tuanya meninggal sewaktu ia masih bayi, dan ia kemudian dibesarkan oleh pamannya. Akan tetapi, pamannya suka menggerayangi tubuhnya setelah ia tumbuh jadi gadis kecil, dan kemudian memperkosanya sehingga ia lari dari rumah dalam usia menjelang dua puluh tahun. Sekarang, ia menjadi pelacur dan tidur dengan siapa saja yang mengajaknya. Bagaimana mungkin seorang gadis yang dibesarkan dalam lingkungan bejat semacam itu dan secara seksual dilecehkan semenjak kecil dimintai pertanggungjawaban yang sama dengan orang sepertiku yang besar dalam keluarga baik-baik? Rasanya tidak adil.

Pengantar: (-arie-)

Masalah utama di sini adalah cara berpikir kita yang linear. IP bagus itu di atas 3,5; kalau sekolah tinggi itu berarti pinter, dsb. (Pengantar olehku, yang dendam dengan sekolah. Hehe.) Hmm, lalu apakah Tuhan memiliki kebijakan yang linear? Begini analisis Jeffrey Lang:

Jawab:

Tak bisa dipungkiri bahwa hidup memang tidak memiliki titik tolak yang sama, bahwa sebagian kita lahir di lingkungan yang lebih kondusif untuk menggapai kebajikan. Mungkin inilah alasan mengapa Al-Qur’an menyatakan bahwa manfaat dari perbuatan baik itu beragam, sedangkan kerugian dari perbuatan buruk itu seragam.

Sesungguhnya, Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (Q.S. 4: 40)

Barang siapa membawa amal yang baik akan mendapat pahala sepuluh kali lipat dari amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengan kejahatannya, sedangkan mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). (Q.S. 6: 160)

Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan pada kebaikannya itu. Sebenarnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (Q.S. 42: 23)

Ini adalah masalah konteks. Sumbangan sepuluh ribu rupiah dari seorang yang miskin jauh lebih mulia daripada sumbangan sebanyak itu dari orang kaya. Konsep bahwa nilai perbuatan bajik itu relatif didukung oleh hadis-hadis yang menekankan sifat pengasih Allah yang tidak terbatas. Seorang perempuan yang biasa memberikan laban (susu asam kental) kepada orang-orang yang membutuhkan dan tak pernah menggunjing akan diganjar dengan surga, sekalipun ia melalaikan salat dan puasa. Seorang lelaki masuk surga karena pernah turun ke dalam sumur untuk mengambil air demi seekor anjing yang sangat kehausan. Seorang yang telah membunuh seratus orang pergi jauh ke sebuah kota untuk menemui seorang alim yang akan menunjukkan caranya bertobat. Di tengah perjalanan, pembunuh itu meninggal, tetapi Allah memasukkannya ke surga berkat usahanya yang tulus untuk memperbaiki diri.

Di sisi lain, makin banyak karunia yang diterima seseorang, makin besar ancaman hukuman yang diberikan kepadanya. Contoh ekstrim, keluarga Nabi Muhammad. Bila Nabi tidak menyampaikan wahyu Allah dengan benar, dia akan dibalas dengan siksaan ganda. Jika istri-istri Nabi berbuat keji, mereka pun akan diganjar dengan siksaan yang lebih keras. (Hmm, high risk-high return yah? -arie-)

Namun demikian, terkait pertanyaan awal, Al-Qur’an tak lupa menegaskan bahwa Islam tidak memperhitungkan kesalahan-kesalahan orang yang mengalami gangguan jiwa dan psikologis. Dalam Islam, zina adalah dosa, tetapi melacurkan diri karena suatu trauma melampaui persoalan dosa atau tidak dosa.

Oleh sebab itu, balasan kehidupan di akhirat didasarkan tidak semata-mata pada besar-kecil atau banyak-sedikitnya bentuk perbuatan baik yang kita lakukan selama hidup di dunia, melainkan juga pada sejauh mana kemajuan yang kita peroleh selama ini.

(Note: Yang berminat tau referensinya, liat bukunya aja ya.)

———————————————————————————————————————-

Oke, balik ke aku lagi di sini. (Haii. 😀 )

Berdasarkan penjelasan Jeffrey Lang itu, kita jadi membayangkan bahwa hidup ini mirip dengan persamaan empiris di mana pahala kita dihitung berdasar jumlah error positif yang kita miliki (kalau ada) atau mungkin berdasarkan sedikitnya jumlah error negatif yang kita punya. Persamaan empiris ini lho…

Y = f (A, B, C, …) + error

Y itu adalah kita, perbuatan, pemikiran, dan lainnya. Sementara A, B, dan C itu faktor pembentuk yang diberikan Tuhan. Intinya ya segala sesuatu yang di luar kendali kita lah. Sementara error adalah hal yang dalam kendali kita (kendali yang murni). Misalnya Y itu adalah kepandaian kita maka A itu bisa jadi IQ, B masa kecil yang bahagia, C pendidikan yang bagus, dan lainnya. Kalau kita punya IQ tinggi, masa kecil bahagia, pendidikan yang bagus maka secara umum mestilah kita jadi pandai. Kalau kita punya semuanya tapi tidak jadi pandai maka itu salah kita sendiri. Misalnya gara-gara malas, takut nyoba, dan lainnya.

Ini mungkin juga alasan kenapa sombong itu nggak boleh. Coba sekarang ganti variabel dependennya itu adalah ‘kebaikan hati’ dan faktornya itu ‘orang tua yang baik,’ ‘guru yang hebat,’ ‘pendidikan yang memadai,’ dan faktor lain yang tercakup dalam kelompok ‘lingkungan yang kondusif.’ Kalau si Q, misalnya, punya semua faktor ‘lingkungan yang kondusif’ tadi maka nggak heran kalau Q jadi baik hati. Lalu, apa yang pantas disombongkan? Ha wong Q baik hati itu merupakan fungsi dari ‘lingkungan yang kondusif’ yang notabene adalah pemberian Tuhan.

Singkat cerita, Q yang baik hati itu adalah expected atau estimated result. Nggak ada yang spesial di sini. Ini namanya fate. Ini juga kenapa Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers bilang bahwa Bill Gates tidak sedang merendah ketika menyebut dirinya ‘beruntung’. Bill Gates benar-benar tidak sedang merendah, ia ‘hanya’ memiliki pemahaman yang lebih baik atas kehidupan.

Beda lagi kalau ternyata Q tadi jadi jahat. Expected atau estimated result-nya kan ‘baik hati,’ eh koq aktualnya malah jahat? Yah, ini rada dong-dong kan? Wong punya bahan-bahan untuk menjadi baik, menjadi pintar, menjadi sopan; eh koq malah jadi sebaliknya. Ini berarti ada error dan dalam artian negatif. Lha, siapa yang bikin error itu? Ya tentu saja si objek itu sendiri, dalam hal ini ya si Q yang mungkin terlalu memperturutkan hawa nafsu yang notabene ada dalam kendalinya.

Nah, inilah yang biasanya terjadi dalam kehidupan. Kita punya bahan-bahan untuk menjadi baik, dalam aspek-aspek tertentu. Kecuali kasus ekstrim, nggak ada juga orang yang semua selnya jahat/jelek kan? Ning, kita takut, kita males, kita memperturutkan hawa nafsu, dsb sehingga akhirnya ya jadi nggak baik tadi. Jadi mungkin bener juga itu ustad-ustad suka bilang bahwa kebaikan hanya dari Allah, sementara kesalahan dan keburukan datang dari kita.

Oya, trus gimana kalau kasus ekstrim seperti contoh awal tadi? Ya tinggal diisi saja faktor-faktornya itu dengan sangat negatif maka, sudah bisa kita tebak, expected atau estimated result-nya pun negatif. Tidak heran bila perempuan itu kemudian trauma sampai melacurkan diri. Ini yang dibilang Jeffrey Lang dengan ‘Islam tidak memperhitungkan kesalahan-kesalahan orang yang mengalami gangguan jiwa dan psikologis.’

Hmm, ini jadi bikin susah mau nge-judge orang baik atau buruk ya? Maksudku, ini baru persamaan empiris linear, ning faktor-faktornya udah nggak bisa kebayang semuanya (ditandai dengan ‘dsb’). Belum lagi kalau ketambahan logit, probit, polinomial, *sebut aja semuanya biar dikira pinter statistik* 😛

PS: Eh.. di sisi lain, ini menunjukkan pentingnya berdoa Al Fatihah ayat 6, ‘[T]unjukilah kami jalan yang lurus.’ Soalnya, kalau kita sudah tau jalan yang lurus, yang tidak mudah dipilih dalam kehidupan sehari-hari, maka itu berarti fungsi variabel-variabel tadi akan menguntungkan kita (in our favor). Bahkan hal-hal buruk pun punya hikmahnya ketika kita berada di jalan yang lurus.

Iklan