Ah, Teori

Kamu-kamu pada pasti sering dong denger orang-orang bilang ‘ah, teori.’ Sebenernya gak ada lho yang ‘ah teori’ itu. Teori di buku kuliah itu sebagian besar oke koq.

Kalau orang-orang bilang teori itu beda sama dunia nyata gimana?

Itu gara-gara 2 faktor. Pertama,Books Books faktor emosional. Dunia nyata beda sama teori karena di dunia nyata, faktor emosional itu gede banget. Kalau baca buku teaching itu kayake ngajar itu gampang banget. Namun ternyata nggak juga. Misalnya deh, kamu udah cape-cape njelasin. Eh, muridmu masih tetep juga gak ngerti, gak merhatiin, ataupun asik main sendiri. Kesel dong. Secara keseluruhan, tugas ngajar jadi gak menyenangkan, dus gak gampang.

Kedua, faktor kecerdasan praktik. Kebanyakan teori merupakan gambaran prinsip umum yang berlaku ataupun ada. Misalnya deh teori yang bilang bahwa manusia itu makhluk yang manis. Pada kenyataannya kan kamu menemukan bahwa ternyata ada manusia yang jauh lebih manis daripada yang lain, aku. *dikeplak*

Perbedaan-perbedaan semacam itu tuh biasa. Kenapa? Hampir tiap hal di dunia ini tuh punya faktor unik. Faktor-faktor unik ini tadi gak semua bisa dimasukin ke dalam teori. Kalau iya, bukunya jadi tebel dong. Nah, tanggung jawab siapa untuk memikirkan/mempertimbangkan faktor-faktor lain ini? Ya kita dong. Makanya kudu punya kecerdasan praktik.

Misal gampang deh hujan. Hujan kan ada macam-macam, hujan lebat, hujan gerimis, hujan badai, dsb. Teorinya, kalau hujan, kita kudu pakai payung/jas hujan. Kalau hujannya rintik tipis doang dan kamu cuma mau beli nasi goreng di sebelah gimana? Gak pakai payung ya gakpapalah. Trus, kalau hujannya badai gimana? Ya jangan pakai payung dong. Neduh woy. Trus apakah ini berarti teori hujan-payung itu salah? Ya enggaklah, kan emang kita kudu bikin penyesuaian buat faktor-faktor unik tadi. Itu yang butuh kecerdasan praktik.

Trus kecerdasan praktik dapat dari mana?

Pertama sih kemampuan kita membaca situasi. Kalo kamu nggak bisa tau hujan yang terjadi sekarang itu hujan lebat, rintik, tau badai ya makasih deh. Mau kamu tau teori segala macem jenis hujan juga gak guna kalau gini caranya.

Kedua, dari pemahaman kita atas teori lainnya. Misalnya, selain kamu belajar teori ‘macam-macam hujan’, kamu juga kudu belajar ‘macam-macam penyakit yang diakibatkan oleh hujan’, trus kamu mungkin juga kudu tau ‘macam-macam ongkos sakit’. Jadi, pas bikin keputusan mau pakai payung, gak pakai payung, ataupun neduh, kamu bener-bener tau akibatnya buat dirimu.

Misalnya, kamu bisa membaca situasi bahwa sekarang ini hujan badai angin. Trus, kamu juga pernah tau bahwa risiko kecelakaan motor ketika penglihatan sangat terganggu meningkat tajam 40%. Nah, kamu bisa mikirin tuh apakah kamu mau menanggung tambahan risiko 40% tadi atau mau neduh dan telat masuk kelas 15 menit. Di sisi lain, kamu tau bahwa dosennya ini baik dan pengertian banget koq. Jadi kamu mungkin lebih condong memilih telat. Toh dosennya baik dan kamu gak mau nanggung tambahan risiko kecelakaan tadi.

Nah, itu dia. Belajar teori itu penting. Dia berguna buat dunia praktik atau nyata kita nanti, selain dia ngebantu kita untuk mempertajam otak kita. Dunia nyata dan teori itu ibarat jalan dan peta. Kamu bisa tetep nyampe tujuan walaupun tanpa peta. Namun dengan peta (dan kemampuan membaca peta yang baik), perjalananmu bakal jadi lebih mudah dan menyenangkan. Waktu lebihnya bisa kamu gunakan untuk perjalanan ke tempat lain lagi.

Gak percaya? Liat deh “anak-anak bandel” yang sukses di zaman sekarang. Bill Gates emang putus sekolah, namun dia terbukti rajin dan pinter makanya bisa masuk Harvard. Steve Jobs mungkin urakan dan semaunya sendiri tapi dia dari muda udah biasa diskusi di universitas sekelas Stanford.

Eh tapi… pelajaran kita sekarang kan belum tentu kepake di masa depan? Ya iya sih, tapi kalo kamu suka ya pelajari aja dengan serius. Steve Jobs muda ikut kelas kaligrafi. Dia serius dan semangat belajar kaligrafi. Apakah dia jadi ahli kaligrafi? Enggak sih tapi efek belajarnya itu kebawa sampai ke semua produk Apple. Cuma belajar kaligrafi 1 semester aja, efeknya trus menghasilkan produk-produk yang diakui sebagai yang terhebat dalam urusan desain. Dengan catatan kamu suka tuh pelajaran, belajar serius secara lengkap (comprehensive) dan mendalam (thorough) itu menjadi sangat penting dan berguna nantinya. πŸ˜€

*arie, kesambit Oskadon*

Iklan