Hidup itu Pilihan: Sisi Lain Sebuah Cerita

Entah aku yang bias memahami tapi kayaknya enggak, istilah hidup itu pilihan umumnya digunakan

Path of Color
Path of Color (Photo credit: fortun8)

dalam rerangka memandang-hidup-secara-positif. Makna implisit umumnya adalah kita tidak selalu harus terpaksa koq dalam menjalani hidup, kita (sangat) boleh memilih. Memilih jadi orang hebat, memilih jadi presiden, memilih kaya, dan banyak lagi. Intinya sih istilah itu adalah gambaran betapa banyak potensi dan kemungkinan hidup kita.

Namun, membaca artikel Eric Sinoway di blog HBR, aku jadi menyadari bahwa “hidup itu pilihan” ternyata juga bisa dan wajib dilihat dan dimaknai dari sisi lainnya. Sisi bahwa ternyata sumber daya kita (waktu, tenaga, pikiran) tidak cukup untuk meraih semua potensi itu sekaligus dan oleh karenanya kita harus memilih. Ya, artikel Sinoway cerita bahwa dalam hidup kita nggak bisa dapat semuanya. Uhm, lebih tepatnya lagi, kita nggak bisa dapat semuanya sekaligus. Ya gimana mungkin mau dapat semuanya kalau dimensi kehidupan aja ada banyak.

Sinoway dan temannya, Howard Stevenson, mengidentifikasi 7 dimensi kehidupan,

  1. Keluarga (orang tua, anak, saudara, dsb)
  2. Sosial dan komunitas (persahabatan, keterlibatan dalam komunitas – community engagement)
  3. Spiritual (agama, filosofi, perkembangan mental – emosional)
  4. Fisik (kesehatan, well-being)
  5. Material (lingkungan fisik, kepemilikan – harta)
  6. Avokasi (hobi, aktivitas nonprofesional)
  7. Karier (baik jangka pendek maupun jangka panjang)

Nggak mungkin banget kan sukses dalam ketujuh hal itu sekaligus? Sinoway menyarankan agar kita memilih secara sadar aspek mana yang mau dicapai terlebih dahulu, tentu dengan mempertimbangkan semua aspek kos dan manfaatnya. Jangan sampai memilih karena terpaksa alias memilih semua tapi trus gagal berguguran satu-satu, tinggal kita berteman dengan sisa-sisanya. Begini kata Sinoway,

As you progress in your career and life, more responsibilities and opportunities are tossed at you. And so at some point, to maintain your balance, you’ll have to drop something. The key is to decide consciously what to relinquish instead of unwittingly letting go of the most important item.

Menarik bagaimana kedua makna “hidup itu pilihan” ibarat 2 sisi mata uang. Sama-sama harus dimiliki dan diterima. Btw, sekarang enaknya memilih yang mana ya?

Iklan