Semua orang berpotensi kreatif

paper clips
paper clips (Photo credit: Dominique Godbout)

Vi sedang sibuk menekuni berbagai paper clip warna-warni di depannya. Gadis mungil lima tahunan dengan kuncir 2 yang akan berantakan segera setelah jam istirahat tiba itu kini sedang tak mau diganggu. Sebentar ia memandangi paper clipnya, seolah-olah sedang membaca pikiran mereka.  Ada kalanya ia mengentakkan kaki dengan kesal sambil menghempaskan badan ke punggung kursi lalu melamun pergi. Kadang ia memekik kecil dengan girang, kemudian menuliskan sesuatu dengan serius di kertasnya. Kertas itu berisi daftar. Daftar berbagai kegunaan paper clip yang bisa Vi bayangkan, dan Vi bisa membayangkan banyak hal.

Manusia itu lemah

Kita mungkin sekarang susah membayangkannya. Namun awal ada di bumi, manusia adalah makhluk paling lemah dan berada di piramida makanan paling bawah. Ya bayangin aja, kita nggak punya tenaga sekuat beruang, nggak bisa lari secepat singa, nggak setangguh kuda dalam melakukan perjalanan. Padahal bumi dulu sepenuhnya alam liar. Di klip The Croods (2013) ini aja, kita nggak sanggup berjalan di permukaan yang tajam. (Ya iyalah ya.) Trus gimana caranya kita bertahan?

Yup, dengan menemukan dan/atau menciptakan hal baru.

Hal-hal baru ini bermacam-macam. Mulai dari kertas yang ditemukan sejak dahulu kala sampai Facebook yang baru mau berumur 10 tahun. Mulai dari rumah, tempat tinggal yang semua orang bisa membayangkan penciptaan/pembangunannya sampai huruf dan bahasa yang kita gak kebayang saking prosesnya begitu panjang dan bertahap. Mulai dari penciptaan model pertanian yang begitu terkendali sampai internet yang begitu bebas dengan semua orang bisa membangun dan berkontribusi hal baru lagi di dalamnya.

The statue of a woman in regal ancient Java at...
The statue of a woman in regal ancient Java attire in Monas (National Monument), Jakarta. The statue probably depicting Suhita, the Queen of Majapahit kingdom, or probably Ibu Pertiwi, the National Personification of Indonesia. (Photo credit: Wikipedia)

Bagaimana mungkin umat manusia bisa berkembang begitu maju dengan menemukan dan/atau menciptakan hal baru yang sedemikian banyak? Sebab kita dianugerahi divergent thinking alias kemampuan berpikir berbeda. Kemampuan ini sangat penting. Misalnya, kita yang berpikir linear dalam melihat batu ya melihat batu sebagai batu. Namun orang yang mampu berpikir divergen bisa melihat batu sebagai bahan membangun tempat berlindung sampai suatu karya seni yang indah.

Siapa saja yang dianugerahi kemampuan berpikir divergen ini? Semua orang. Sebab zaman dulu, jumlah manusia sangat sedikit dengan alam liar dan ancamannya yang begitu beragam. Ini berarti rasio kesempatan hidup tiap orang menjadi sangat kecil. Apabila hanya sedikit orang (orang-orang terpilih) yang memiliki kemampuan divergent thinking ini maka bisa jadi umat manusia akan punah sebelum bisa benar-benar melindungi dirinya.

Di zaman sekarang pun, semua orang masih memiliki kemampuan berpikir divergen ini. Dalam kuliah umumnya, Changing Education Paradigm, Sir Ken Robinson mengutip suatu penelitian yang menanyakan apa saja kegunaan paper clip pada 1.500 anak TK. Jawaban mereka akan diberi skor dan skor di atas level tertentu disebut “genius dalam divergent thinking.” Berapa persen anak TK ini yang masuk dalam level genius?

98%

(Catatan: 5 tahun kemudian, anak-anak ini dites lagi dan persentase yang genius turun menjadi 50%. Sir Ken Robinson menduga ini ada kaitannya dengan *uhuk* sekolah *uhuk*).

Iklan

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s