Live. Die. Repeat

Bagaimana kalau ternyata kita juga melakukannya? Dalam konteks psikologis, bukan fisik? Hidup, mati, dan mengulanginya kembali?

Kemaren aku baru nonton Edge of Tomorrow, filmnya Tom Cruise dan Emily Blunt. Seru! Emily Blunt terutama keren banget jadi Rita Vrataski, bener-bener badass. Di sini karakternya Tom Cruise terjebak dalam lingkaran waktu (time loop), di mana setiap kali mati maka dia akan hidup lagi, balik ke hari dia gabung dengan J-Squad. Gampangnya sih kayak main game yang kalau game over maka kita balik ke level tertentu, level 5 misalnya, trus mulai awal lagi dari situ. Konsekuensi mengulangi waktu terus-menerus seperti itu ya maka dia makin canggih, makin menguasai kondisi, dan makin punya peluang menang. Ya kan?

Nah, zaman masih muda dulu *ehem,* aku jadi tau bahwa ada orang-orang yang sering terjebak pada hubungan yang tidak baik, bisa hubungan romantis ataupun nonromantis. Yang menarik, hubungan ini justru setipe dengan hubungan yang tidak ia sukai ketika kecil (i.e. trauma masa kecil). Misalnya, seorang anak perempuan yang punya dan membenci ayahnya yang pemabuk, kemudian justru menikahi seorang pemabuk juga, dan akhirnya memiliki masalah yang sama dengan yang dihadapinya ketika kecil.

Ini menarik. Kenapa orang mau mengulangi penderitaannya lagi? Anak perempuan tadi, misalnya, tentu sudah tau bagaimana buruknya karakter/sikap seorang pemabuk, kenapa dia malah menikah dengan seorang pemabuk? Jauhi dong. Ya kan?

Ya itu sih kalau akal sehat yang berbicara. Namun, disadari atau enggak, diakui atau enggak, kita banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor emosional dan psikologis. Balik ke Edge of Tomorrow tadi, aku jadi terpikirkan, mungkin sebenarnya kondisi psikologis orang-orang yang mengalami trauma masa kecil itu hampir seperti orang yang mengalami time-loop. Secara tidak sadar, mereka berusaha kembali ke masa kecilnya dan ingin mengubah outcome-nya. Anak perempuan yang menderita karena punya ayah pemabuk itu, mungkin secara tidak sadar mencari pasangan hidup yang pemabuk juga karena kali ini dia ingin berhasil mengatasi masalahnya (dengan seorang pemabuk) dan tidak lagi menderita.

Yang ironis, seperti di Edge of Tomorrow, pengulangan itu mungkin membuat kita melangkah lebih jauh, kita jadi lebih pintar dan menguasai kondisi, namun pada akhirnya hasilnya tidak akan berubah. Sepertinya ada yang magis dalam menjalani hidup dengan menyadari penuh bahwa kesempatan itu hanya sekali.

Iklan

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s