Mengapa Akuntansi Perlu Dipelajari

Berhubung ada yang search ‘mengapa akuntansi perlu dipelajari’ jadi aku mau jelasin ini aja secara filosofis. *halah* Oke, jadi kenapa?

Kalian sempet nonton Gravity nggak? Masih inget bagian pas Sandra Bullock drifting nggak jelas di luar angkasa setelah debris menabrak post dia di Explorer? Pas drifting itu, keliatan kalau di kaca helmnya Sandra Bullock ada informasi data-data penting buat dia, kayak level O2 yang masih tersisa. (Tinggal 10% waktu itu 😥 ). Biar jelas, liat deh klipnya. Informasi di kaca helm itu ada di awal, detik ke 15-an lah yang jelas banget.

Konsep akuntansi seperti informasi di helm itu. Akuntansi mensintesa beragam informasi entitas (e.g. perusahaan) untuk kemudian menyajikan olahan informasi yang relevan pada penggunanya. Dalam contoh Gravity, manusia itu kan punya berbagai data juga sebenarnya seperti detak jantung, tipe darah, tinggi badan, dsb. Semua data ini tentu ada gunanya dan ada relevansinya untuk sesuatu. Nah di sini kita perlu liat lagi konteksnya. Ketika kamu sedang bertugas di luar angkasa, data yang paling berguna mungkin detak jantung (untuk memonitor kondisi kesehatan), trus data tambahan seperti cadangan oksigen yang masih tersisa, dan sebagainya.

Akuntansi pun begitu. Perusahaan memiliki banyak data dan kompleks pula. Tentu nggak semua data maupun olahannya bisa disajikan. Mana yang perlu disajikan, mana yang relevan? Itu kemudian yang menjadi filosofi (mengapa) belajar akuntansi.

Manfaat belajar akuntansi secara filosofis seperti ini sungguh banyak. Misalnya balik lagi ke contoh Gravity, apakah semua statistik kondisi manusia itu relevan bila dibaca/digunakan oleh orang sehat di bumi? Tentu saja enggak, orang sehat di bumi mana peduli sama level oksigen di tangki. Ha wong pake tangki oksigen aja enggak. Detak jantung juga jarang dipedulikan, kecuali lagi latihan kardio di gym. Kalau orang sehat yang lagi diet malah pedulinya sama ukuran poin di fuel band, biar tau udah banyak ngebakar kalori apa belum. Jadi beda konteks ya beda lagi ukurannya, walaupun sama aja entitas yang diukurnya, masih manusia juga.

Akuntansi pun demikian. Yang diukur sama-sama perusahaan, namun informasi yang perlu diperhatikan pengguna/user jadi beda kalau yang satu mau IPO, sementara satunya mau bayar pajak. Kalau sekedar bikin rasio, mengeluarkan angka saja sih mungkin relatif gampang ya. Yang susah adalah mensintesa/menghubungkan hal-hal tersebut dengan lingkungan dan sejumlah fenomena yang kadang nggak terlihat jelas. Mampu mensintesa data, informasi, konteks, dan keperluan inilah gunanya belajar akuntansi secara filosofis.

Berarti kudu belajar dari awal banget ya? Ya iya. Soalnya kalau nggak belajar akuntansi mulai dari awal (pengambilan dan pengolahan data) hingga hasil akhirnya (informasi pelaporan keuangan), mana bisa kita tau apakah informasi yang disajikan itu relevan, berkualitas, dan bisa diandalkan? Ya kecuali kalau segera ada pembanding aktualnya kayak quick count kemaren sik. Namun dalam kasus akuntansi kan ya informasi (laporan keuangan) itulah yang harapannya merupakan ukuran yang relevan, berkualitas, dan bisa diandalkan. Kondisi pengguna menjadi sangat rapuh kalau pemahaman pelaporan keuangannya sepenuhnya diandalkan pada orang lain (baca: akuntan).

Kalau kamu belajar akuntansi secara filosofis, besar harapan saya nanti kamu bakal menjadi generasi baru yang menciptakan kebijakan-kebijakan akuntansi yang lebih baik sehingga akuntansi bakal lebih berguna bagi masyarakat banyak. Cheers!

(Belajar akuntansi secara filosofis ini tampaknya belum banyak terjadi di akuntansi konvensional yang mendominasi ruang kelas sampai saat ini. Siswa kebanyakan hanya belajar ukuran yang sudah ditentukan. Sementara guru sendiri jarang berusaha memampukan siswa untuk mensintesa informasi secara mandiri dan untuk kemudian belajar menciptakan ukuran-ukuran baru. Padahal kemampuan ini sangat penting untuk dilatih sebab kita tidak tau seperti apa masa depan dan seperti apa pula entitas yang akan ada di dalamnya beserta ukuran-ukuran relevan yang diperlukannya.)

Iklan